Pembinaan Aqidah dan Akhlak Terhadap Anak
Dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia terbukti bahwa yang dapat mengubah realitas kehidupan jahiliyah adalah mereka yang terbina aqidah dan akhlaqnya secara islami sejak dini. Ibnu Sina mengatakan : Jika anak sudah mulai lepas dari ASI ia harus dilatih akhlaq yang baik sebelum ia tertular akhlaq yang buruk. Oleh karena itu menurut Dr. Muhammad Abdul Hafidz Suwaid, sejak anak lepas ASI maka anak harus sudah mulai mendapatkan pengarahan, nasehat, perintah, larangan motivasi, ancaman,mengenal yang baik dan yang buruk dan lain-lain.
Pada dasarnya ketika anak masih menjadi janin dalam rahim ibunya pada usia 4 bulan, ia telah mengadakan sumpah kesaksian kepada Allah (Al-Ać± af :174). Akan tetapi komitmennya terhadap sumpah itu setelah lahir tergantung kepada kedua orang tuanya.
Adapun pembinaan aqidah pada anak menurut Ibnu Sina dimulai dengan menghafalkan kemudian memberikan pemahaman dan dilanjutkan dengan meyakinkan serta mengimani.
Cara-cara pembinaan keimanan terhadap anak:
· Membisikkan kalimat tauhid di saat baru lahir .
· Menyampaikan kalimat tauhid kemudian surat Al-Isra ayat 111 berulang-ulang hingga ia dapat menghafalnya.Rasulullah bersabda : Bukalah kehidupan anak-anakmu dengan kalimat pertama Laa Ilaaha Illallah (HR. Hakim).
· Dalam riwayat lain apabila Rosulullah bertemu dengan anak-anak Bani Hasyim yang sudah dapat bicara beliau membacakan surat Al-Isra ayat 111 sebanyak 7x. (HR. Abdur razzak).
· Menumbuhkan kecintaan terhadap Allah, mengajarkan untuk meminta tolong ke pada-Nya,
· menumbuhkan sifat merasa diawasi oleh Allah dan menumbuhkan keimanan terhadap taqdir seperti seorang anak penggembala yang disuruh oleh ibnu Umar untuk menjual seekor kambing kepadanya tanpa sepengetahuan tuannya bahwa kambingnya diterkam srigala. Anak itu menjawab , Wahai Tuan anda bisa mengatakan begitu tetapi Allah slalu mengevaluasi dan mengetahui prilaku kita. Juga Abdullah bin Zubair ketika ditanya oleh Umar mengapa engkau ,tidak lari dariku seperti kawan-kawanmu? Ia menjawab : saya tidak punya dosa kepadamu sehingga saya tidak perlu menghindar darimu dan saya tidak takut kepadamu sehingga saya tidak perlu memperluas jalan untukmu.
· Menumbuhkan kecintaan terhadap Nabi Rasulullah SAW bersabda : Ajarkanlah anakmu 3 hal yaitu mencintai Nabimu, mencintai keluarganya dan cinta membaca Al-Qur’an
Adapun kiat menumbuhkan kecintaan terhadap Nabi SAW adalah :
· Membiasakan anak melakukan ajaran-ajaran Rosulullah.
· Menumbukan kecintaan membela ajaran Rosulullah (Islam) seperti dua anak kecil yang dengan gagah beraninya dapat membunuh Abu Jahal dalam perang Badar.
· Menumbuhkan kecintaan terhadap apa yang dicintai Rosulullah seperti makan dengan tangan kanan, membiasakan memulai pekerjaan dengan membaca basmalah.
· Menghafalkan hadits seperti Janganlah kamu marah niscaya kamu masuk surga.
· Memberi hadiah kepada anak - anak yang hafal hadits.
· Mengajak anak bersilaturrahim dan belajar kepada ahli hadits.
· Mengajak anak melakukan wisata rohani bersama keluarga atau teman dan kerabat.
· Mengajarkan siroh dan memfokuskan pembahasan pada teman-teman tertentu serta mengevaluasi sejauh mana pengaruhnya kepada anak.
· Mengajarkan anak membaca dan menghafalkan Al-Qur’an serta memahami tafsirnya seperti Ibnu Abbas atelah menghafal Al-Qur’an disaat ia berusia sepuluh tahun ketika Rosulullah wafat.
· Melatih dan membiasakan melakukan shalat, berinfaq dan memperkenalkan manasik haji.
· Melakukan pembinaan pemantapan aqidah dan rela berjuang untuk menegakkannya seperti kisah anak kecil dalam peristiwa Ashabul Ukhdud.
Pembinaan akhlaq terhadap anak
Kesuksesan pembinaan akhlaq terhadap anak sangat tergantung kepada keteladanan orang tua, seluruh anggota keluarga dan orang-oarng terdekatnya.
Adapun cara-cara pembinaannya adalah sebagai berikut:
· Menanamkan adab-adab yang baik terhadap anak seperti adab terhadap kedua orang tua, adab terhadap guru, adab berukhuwah, adab bertetangga,adab menghormati tamu,adab meminta izin, adab makan, adab mendengarkan Al-Qur’an dan lain-lain.
· Melatih dan membiasakan anak bersikap jujur sehingga kejujuran menjadi akhlaq kesehariannya.
· Melatih dan membiasakan anak untuk menjaga amanah karena jujur dan amanah itu merupakan pondasi bagi terbentuknya akhlaq-akhlaq yang mulia.
· Melatih anak untuk menghormati dan menghargai orang lain dan melarang anak mencaci, menghina dan menganiaya orang lain.
· Menghormati dan menghargai hak milik orang lain sehingga ia dapat terhindar dari sifat ingin mencuri.
· Melatih serta membiasakan anak untuk berlapang dada, memaafkan kesalahan orang lain dan menumbuhkan rasa ikut gembira terhadap kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain sehingga terhindar dari sifat dengki .
· Melatih dan membiasakan anak untuk hidup sederhana dan merasa cukup dengan rizki yang ada, agar anak tidak manja dan terbiasa hidup mewah.
· Melatih dan membiasakan anak bekerja dan memenuhi kebutuhannya sendiri sehingga dapat mewujudkan sikap mandiri terhadap anak
· Melatih dan membiasakan anak disiplin dalam kegiatan sehari-harinya sehingga dapat mengatur waktunya dengan baik.
Sebagai pesan untuk oranng tua sehubungan dengan pembinaan akhlaq terhadap anak , Tiada yang terbaik dari pendidikan orang tua terhadap anaknya daripada menanamkan akhlaq yang mulia.
Ibnu Umar berkata : Didiklah anakmu karena sesungguhnya kamu bertanggung jawab terhadap apa yan telah kamu ajarkan keadanya dan dia bertangung jawab untuk berbuat baik dan taat kepadamu.
wallohu a'lam
KETAHANAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI FRUSTASI SOSIAL
Era globalisasi saat ini lebih didominasi oleh globalisasi kekufuran, kemungkaran dan kemaksiatan. Dan pemikiran dan idiologi kufur dan sekuler gencar dipasarkan, pergaulan bebas dan pornografi semakin menjadi-jadi dan merajalela. Penjajahan budaya hedonisme dan budaya asing yang amoral melalui media elektronik maupun media cetak semakin gencar, sementara peredaran narkoba semakin meluas ke masyarakat desa.
“Fitnah dan bencana segera datang bagaikan malam yang kelam. Pagi-pagi orang itu mukmin, petang hari telah menjadi kafir. Petang hari dia mukmin, pagi harinya ia sudah berubah menjadi kafir.”
Gambaran dari hadist ini salah satunya sudah mulai terjadi. Sekarang kita seakan-akan begitu sulit untuk tetap istiqomah dengan nilai-nilai Islam yang luhur yang diridhoi Allah. Bencana kerusakan idiologi, mental dan budaya datang menyerang dari berbagai penjuru. Dan mereka bergegas melakukan kerusakan yang mendunia. Sementara di sisi lain secara umum dakwah islamiyah yang rahmatan lil ‘alamin masih dengan sarana yang tradisional dan belum banyak berkembang.
SIKAP KELUARGA MUSLIM
Dalam kondisi seperti di atas maka mempertahankan diri dan keluarga dari berbagai pengaruh yang negatif yang akan mengancam akidah dan perilaku kita sebagai seorang muslim merupakan suatu keharusan. Yang harus segera kita lakukan adalah membekali diri dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak yang islami, membuat diri dan keluarga dapat menjadi istiqomah.
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. 66 : 6)
Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa “Membentengi diri dan keluarga yang efektif adalah dengan proses pendidikan dan pembinaan.”
Dengan pendidikan dan pembinaan Islami yang intgral dan benar, akan terbentuklah kepribadian yang kokoh dan sekaligus memiliki imunitas yang kuat dalam menangkal berbagai pengaruh dan rangsangan negatif dari luar. Namun pembentengan diri ini tidak cukup hanya dengan menghindar dan megisolasi diri dari berbagai ancaman eksternal.
Di dalam tafsir Ibnu Katsir (jilid 4, hal 34-42) disebutkan bahwa :
“Imam Mujahid mengatakan bahwa membentengi diri dan keluarga adalah dengan menanamkan nilai-nilai ketaqwaan, sehingga dengan nilai tersebut dapat mendorong manusia meningkatkan komitmen dan ketaatannya serta dapat menghindarkannya dari berbagai kemungkaran dan kemaksiatan”.
Ketahanan keluarga agar tetap komitmen dengan nilai-nilai Islam yang luhur dan tidak terpengaruh dengan krisis moral dan frustasi sosial akan semakin efektif jika proses pendidikan dan pembinaan dalam membentuk keluarga Islami terus berjalan secara optimal dan berkesinambungan.
PEMBENTUKAN KELUARGA ISLAMI
Untuk mewujudkan keluarga Islami yang memiliki ketahanan dan imunitas yang tinggi dalam menghadapi krisis mora dan frustasi sosial maka keluarga hendaknya dapat melakukan minimal lima unsur berikut ini :
1. Keluarga Harus Dibangun Atas Dasar Taqwa
Keluarga muslim harus menjadi keluarga teladan bagi terbentuknya masyarakat Islami yang diridhoi Allah SWT. Oleh karena itu azas pembentukan keluarga sakinah (keluarga Islami) adalah ketaqwaan. Maka kesuksesan suami istri dalam pembentukan keluarga Islami tergantung pada ketaqwaan mereka kepada Allah SWT.
Dengan adanya taqwa dari suami istri, maka terwujudlah kebahagiaan mereka yang sebenarnya, karena dibalik ketaqwaan itu terdapat pengarahan dari Allah terhadap hamba-Nya. Selain itu dengan ketaqwaan suami istri akan terciptalah saling percaya antara satu sama lain, sehingga masing-masing akan mendapatkan ketenangan.
Suami istri yang bertaqwa kepada Allah akan melihat pernikahan itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga masing-masing dapat melaksanakan kewajibannya dan memenuhi hak-hak anggota keluarganya. Seperti itulah keluarga sakinah (keluarga Islami) yang penuh cinta dan kasih sayang.
Taqwa kepada Allah membuat suami istri dan seluruh anggota keluarga tunduk patuh kepada Allah SWT. Kelak jika terjadi suatu permasalahan keluarga, mereka akan mudah menyelesaikannya, karena semuanya telah tunduk kepada peraturan Allah dan Rasul-Nya.
Maka kebahagiaan keluarga dan ketahanannya dari frustasi sosial kembali pada ketaqwaan suami istri sejak awal pernikahan. Kebahagiaan itu ada di dalam jiwa yang bukan disebabkan oleh terlepasnya seseorang dari beban dan kesulitan hidup, bukan pula karena harta yang berlimpah, tetapi kebahagiaan yang diperoleh karena kepuasan hati yang dilandasicinta karena Allah SWT.
2. Memilih Pasangan Yang Shaleh
Jika seseorang ingin menikah, hendaknya ia mencari pasangan yang shaleh sehingga masing-masing dapat saling mencintai dan berupaya untuk membesarkan anak-anaknya di atas prinsip-prinsip ketaqwaan dan akhlaq yang mulia.
Di dalam keluarga yang Islami, seluruh anggotanya akan merasakn kenyamanan, ketenangan, ketentraman dan kecintaan. Suasana tersebut dirasakan oleh seluruh anggota keluarga karena keluarga tersebut didirikan oleh suami istri yang shaleh yang sama-sama ingin mewujudkan pengamalan nilai-nilai Islam.
Rasulullah SAW memberikan tuntunan kepada para wali calon istri hendaklah memilih suami yang memiliki agama dan akhlaq agar ia dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam membimbing keluarga, menunaikan hak istri, pendidikan anak, tanggung jawab yang besar dalam menjaga kehormatan dan menjamin material keluarga
Beliau bersabda :
Artinya : “Jika orang yang engkau ridhai agama dan kahlaknyamelamar kepadamu, maka nikahkanlah dengannya, Jika kamu tidak menerima (lamarannya) niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi”. (HR. Tirmidzi)
Secara sunatullah, wanita shalehah adalh pasangan bagi pria yang shaleh dan sebaliknya. Sebagaimana Allah berfirman :
Artinya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalh untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik (pula).”
Oleh karena itu setiap pribadi hendakya dapat mewujudkan kepribadian yang islami, sehingga Allah akan menjodohkannya dengan pasangan yang berkepribadian islami pula.
3. Memenuhi Hak dan Kewajiban Suami Istri
Jika masing-masing suami istri dapat menjalankan kewajibannya dan memenuhi hak-hak pasangannya maka akan terciptalah keluarga sakinah yang penuh dengan ketentraman dan kebahagiaan.
Hak-hak dan kewajiban suami istri ada tiga, yaitu :
a. Hak bersama suami istri, yaitu :
- Mengadakan hubungan kenikmatan seksual
- Berperilaku dengan sebaik-baiknya
- Mendapatkan warisan
b. Hak istri terhadap suami, yaitu :
- Bersifat materi : diberi mahar dan nafkah
- Bersifat moral : dicintai, dihormati, diringankan pekerjaan rumahnya,
dinasehati, diajak bermusyawarah, diperlakukan dengan adil, bijaksana dan sikap yang lembut.
c. Hak suami terhadap istri, yaitu :
- Ditaati perintahnya yang bukan bermaksiat kepada Allah
- Diberikan pelayanan
- Anak-anaknya diberikan pendidikan yang islami
- Dijaga harta dan amanahnya
- Dibantu dalam melakukan kebaikan dan ketaatan
- Kerabatya diperlakukan dengan sebaik-baiknya
4. Menjunjung Tinggi Nilai-nilai Islam
Setiap keluarga hendaknya menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Hal itu hendaknya dimulai dengan keteladanan kedua orang tua yang selalu komitmen terhadap pengamalan nilai-nilai Islam. Keteladanan orang tua sangat diperlukan, sebab proses interaksi anak-anak dan orang tua sangat dekat dalam keluarga. Anak-anak dapat mengetahui kondisi ideal yang diharapkan. Di sisi lain, pada saat anak-anak masih belum dewasa proses penyerapan nilai lebih ditekankan pada apa yang mereka lihat dan dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Proses internalisasi nilai-nilai Islam secara menyeluruh harus terjadi dalam setiap anggota keluarga sehingga mereka senatiasa istiqomah dengan adab-adab Islam. Disinilah peran keluarga sebagai benteng pertahanan terkuat dalam menghadapi frustasi sosial.
Allah berfirman :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. 2 : 208)
5. Memiliki Komitmen Terhadap Adab-adab Islam
Kehidupan berkeluarga yang diwarnai dengan nilai-nilai Islam akan mempermudah terbentuknya generasi muslim yang shaleh. Sebab mereka dapat melihat nilai-nilai Isalm secara nyata dalam setiap perilaku sejak mereka dilahirkan dalam keluarga tersebut. Fenomena kehidupan keluarga islami dapat tercermin sampai kepada hal-hal yang remeh tetapi punya pengaruh yang besar, seperti perlengkapan rumah tangga, alat-alat makan dan minum, pajangan (hiasan) rumah , adab tidur dan bangun tidur, adab makan dan minum, adab masuk ke kamar orang tua, adab masuk ke dalam rumah, adab berbicara, adab bergaul dengan saudara yang tua atau yang muda, pembantu dan pekerja di dalam rumah.
Islam telah memberikan adab-adab berbagai macam hal dalam kehidupan berkeluarga, sehinga setiap keluarga muslim tidak berpegang kepada adat istiadat sehingga menyepelekan adab-adab tersebut. Berpegang pada adt istiadat dan meyepelekan adab-adab Islam akan mengakibatkan kerusakan pada kepribadian anak-anaknya.
Untuk mewujudkan adab-adab yang Islami dalam keluarga, maka rumah harus kondusif bagi terlaksananya peratuaran Islam. Adab-adab Islam dalam kehidupan berkeluarga akan sulit diaplikasikan jika srukturbangunan rumah yang dimiliki tidak mendukung, misalnya rumah tanpa sekat, tidak ada kamar tidur khusus bagi orang tua yang terpisah dari anak-anak, tidak ada kamar khusus untuk anak perempuan yang terpisah dari anak-anak laki-laki. Berbagai penyakit moral akan mudah didapatkan dalam kondisi semacam ini.
Terwujudnya keluarga islami tidak terlepas dari faktor biaya, sekalipun materi bukan merupakan tujuan dalam kehidupan keluarga tetapi tanpa materi banyak hal tidak bisa didapatkan. Itulah sebabnya Allah memerintahkan manusia untuk seimbang dalam mencapai kenikmatan dunia dan akhirat (QS. 2 : 201), (QS. 28 : 77)
Walaupun materi bukan segala-galanya tetapi keluarga islami dituntut memiliki materi yang cukup. Rumah yang kondusif untuk terbentuknya suasana islami membutuhkan sarana yang memadai sekalipun tidak harus mewah dan lengkap seperti membuat perpustakaan kecil dan sarana bermain yang islami yang dapat mencerdaskan anak.
Jika hal-hal semacam tersebut dilakukan secara islami, maka keluarga tersebut akan memberikan pengaruh yang besar terhadapnya terbentuknya masyarakat yang islami.
6. Mendidik Anak dan Pembantu dengan Pendidikan Islami
Mendidik Anak
Anak merupakan amanah Allah yang telah diserahkan kepada orang tua. Anak juga merupakan aset masa depan bagi orang tua di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, mereka berkewajiban mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi penerus yang shaleh, kuat dan bermanfaat. Allah telah mengingatkan orang tua agar tidak meninggalkan generasi yang lemah.
Artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kebahagiaan) mereka.” (QS. 4 : 9)
Pendidikan anak yang harus dipenuhi orang tua mencakup : pendidikan akidah, pendidikan ibadah, peandidikan akhlaq, pendidika intelektual, pendidiakn sosial dan pendidikan fisik.
Anak-anak yang terpenuhi pendidikannya maka ketika mereka dewasa akan dapat memenuhi hak-hak kedua orang tuanya.
Mendidik Pembantu
Dalam membentuk keluarga yang sakinah, Islam mentolerir untuk menggunakan pembantu agar dapat meringankan tugas dan kewajiban rumah tangga seperti yang dilakukan Rasulullah, beliau dibantu oleh Anas bin Malik selama sepuluh tahun.
Untuk mewujudkan keluarga yang islami, seluruh anggota keluarga termasuk pembantu hendaknya ikut berperan mengamalkan nilai-nilai Islam. Oleh karea itu suami istri hendaknya mendidik pembantunya agar memiliki kepribadian yang islami. Jika pembantu memiliki kepribadian yang islami, maka rumah tersebut menjadi lingkungan yang baik bagi keberhasilan pendidikan anak yang islami.
Jika semua anggota keluarga memiliki kepribadian yang islami, mereka dapat saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaatan dan menghindar dari keburukan moral dan frustasi sosial.
MENGEMBALIKAN SOSOK WANITA IDEAL
Disaat sekarang kita sulit mencari wanita ideal yang bisa dijadikan qudwah bagi setiap orang, sedangkan tantangan pembentukan kepribadian muslimah datang dari segala aspek. Oleh karena itu kita perlu meninjau kembali unsure-unsur pembentukan wanita ideal seperti yang terjadi dimasa kehidupan Rosulullah SAW. Semoga saja dengan mewujudkan hal tersebut setiap muslimah dapat menjadi qudwah yang dapat menampakkan Akhlaq Al-qur’an.
Adapun unsur-unsur yang dapat mewujudkan sosok wanita ideal adalah :
1. MENINGKATKAN KEIMANAN.
Hikmahnya:
a. Dapat memperkuat hubungan dengan Allah.
b. Mewujudkan ketenagan hati.
c. Memiliki ketabahan dan kekuatan dalam menanggung bebean.
d. Memiliki Bashirah Rabbaniyyah.
Adapun cara peningkatan bekal ruhiyyah adalah dengan banyak beribadah kepada Allah,
seperti:
a. Shalat (4:77), (22:77);(73:1-6)
b. Membaca Al-Qur’an (8:2)
c. Shaum (2:183)
d. Dzikir (33;41-42), (29;45) ,(62;10) ,(13;28)
e. Dan lain-lain
2. MENINGKATKAN AKHLAQ.
Hikmahnya:
a. Menyempurnakan nilai pribadi seseorang
b. Dapat menghilangkan fitnah (68:4-6)
c. Merupakan da’wah bil hal.
d. Merupakan qudwah
e. Merupakan daya tarik da’wah seorang daiyah.
Adapun cara meningkatkan bekal akhlaq dengan :
a. Bertadabbur Al-Qur’an.
b. Membaca hadits Rosulullah.
c. Membaca siroh nabawiyyah.
d. Bermujahadah dalam membiasakan akhlaq-akhlaq yang mulia.(29:6).
3. MENINGKATKAN PEMAHAMAN.
Hikmahnya:
a. Dapat menghadapi tantangan kehidupan di akhir zaman.
b. Dapat berda’wah kepada orang lain dengan cara yang benar.
c. Dapat mewujudkan amal sholeh yang diterima oleh Allah SWT.
d. Dapat meningkatkan nikmat hidup di dunia dan di akhirat.
Adapun cara meningkatkan pemahaman adalah dengan :
a. Ikhlas dalam mencari ilmu yang bermanfaat.
b. Semangat yang tinggi dalam mencari ilmu (18 :60).
c. Belajar kepada siapa saja yang dapat menunjukkan kebaikan (18 : 66).
d. Akrab dengan Al-Quran baik tilawah, pemahaman maupun pengamalan. (2:121).
e. Mempelajari ilmu yang dapat memperluas pemahaman terhadap niali-nilai Islam.
f. Mempelajari ilmu-ilmu yang dapat memperluas pemahaman tentang ciptaan Allah di alam semesta.
4. ISTIQOMAH DALAM BERAMAL (42 :15 )
Hikmahnya:
a. Dapat menghindari maksiat.
b. Memanfaatkan sisa usia dengan kebaikan-kebaikan.
c. Menjadi qudwah bagi orang lain.
d. Hatinya segar dipenuhi iman.
e. Memperbanyak nilai amal sholeh.
f. Merupakan amal yang tetap tertulis betapapun sedang udzur dikarenakan sakit dan bepergian.
Adapun cara mewujudkan amal yang istiqomah adalah:
a. Tidak banyak makan dan minum.
b. Tidak berlebihan dalam mentaati agama .
c. Tidak mengucilkan diri sendiri.
d. Banyak mengingat kematian dan hari akhirat.
e. Tidak menyepelekan amalan sehari-hari.
f. Beramal sesuai dengan sunnatullah.
5. MENINGKATKAN KESADARAN ISLAMI.
Hikmahnya adalah Memiliki sensitifitas dan imunitas Islami.
Adapun cara mewujudkannya adalah dengan merealisasikan no. 1-4 di atas.
6. MENINGKATKAN KESEHATAN FISIK.
Untuk menciptakan kesehatan fisik hendaknya senantiasa dengan cara yang baik dan halal.
Demikianlah dengan 6 unsur di atas Insya Allah dapat menciptakan sosok muslimah ideal yang senantiasa mendapatkan keridhaanNya, Amin.
Pahamilah Istri Kita
Pernah suatu hari penulis pulang dari luar kota. Dalam perjalanan Terbayang nanti dirumah akan disambut oleh istri dan anak-anak yang berwajah ceria serta terhidang makanan siap santap, maka dibela-belakan untuk tidak makan dalam perjalanan pulang walaupun lapar. Tatkala tiba dirumah, angan-angan yang indah diperjalan buyar tatkala melihat realita yang sebaliknya.
Inilah salah satu gambaran peristiwa kehidupan berumah tangga dan masih banyak lagi peristiwa lainnya yang mewarnai nuansa kehidupan berumah tangga setiap anak manusia. Mungkin ketika kita akan menikah terdetik dan terangan dipikiran kita bahwa calon istri kita adalah seorang wanita yang sholehah dan paripurna, dan itulah idola setiap muslim !!. namun tatkala bahtera kehidupan mulai meninggalkan dermaga untuk mengarungi lautan kehidupan berumah tangga, deburan ombak mulai menghamtam sisi-sisi bahtera dan menggoncang kestabilan perjalanannya. Disaat itulah kita mulai mengetahui akan jati diri istri kita secara transparan. Dari situlah kita mengetahui hakekat sifat fitriah yang dimilikinya. Dan dari situlah kita memulai untuk memformat langkah-langkah kehidupan pada paruh perjalanan kehidupan yang kita akan lalui. Inilah seni kehidupan dan dari sinilah dimulai kehidupan yang hakiki.
Istri kita bukanlahlah malaikat yang suci dari kemaksiatan dan bukanlah pula syetan (na'udzubillah min dzalika) yang selalu melakukan kemaksiatan pada kholiknya. Istri kita adalah manusia seperti kita yang selalu melakukan kesalahan dan kekhilafan serta memiliki banyak kekurangan. Maka Segala kekurangan, kesalahan dan kekhilafan yang istri kita perbuatan haruslah kita maafkan. Bukankah Allah lebih pemaaf atas kesalahan dan kekhilafan hamba-Nya ?. 'sesungguhnya Allah telah memafkan karenaku- dari umatku segala perbuatan yang khilaf dan lupa serta yang dipaksakan atas mereka. 'Istri merupakan amanah dari Allah swt. Amanah yang akan kita pertanggung jawabkan pada mahkamah Allah di akherat kelak. Rosulullah saw telah bersabda, ' setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab kepada apa yang dipimpinnya & '.
Janganlah kita termasuk orang yang akan diseret oleh istri kita ke neraka karena kelalaian kita dalam membimbing dan membina mereka sehingga kita termasuk golongan yang dilansir Rosulullah saw dalam sabdanya, 'Seseorang wanita itu apabila di hari akhirat akan menarik empat golongan lelaki bersamanya ke dalam neraka. Pertama : ayahnya Kedua : suaminya Ketiga : abang-abangnya Keempat : anak lelakinya oleh karena itu bekal kehidupan harus kita siapkan sedini mungkin dengan perbekalan yang terbaik yaitu bekal iman dan ketaqwaan sebagai lentera kehidupan serta bekal ilmu sebagi pembimbing perjalanan.Terakhir marilah kita renungi dan jadikan sabda Rosulullah dibawah ini sebagai motor penggerak demi terciptanya keluarga yang SAMARADA (sakinah, mawaddah, rahmah dan dakwah), ' Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik pada keluarganya.' (HR. Muslim)
'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)
Wallu'alam bish showab.